Komunikator Politik, Linda Poernomo

Para politisi dituntut menguasai teori kebutuhan, psikoanalisis, tipe dan fenomenologis. Melalui kepiawaian membaca kebutuhan khalayak, Komunikator Politik mampu membaca fenomena yang tengah berkembang maupun tuntutan dasar khalayak terhadap suatu isu.

Demikian penggalan isi buku karya politisi Partai Golkar, Marlinda Irwanti atau lebih dikenal dengan nama Linda Purnomo berjudul “Komunikator Politik: Panduan Hadapi Pilkada dan Pemilu” di Pepustakaan MPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (16/10).

Hadir sebagai pembahas, antara lain Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, Ketua Komisi V DPR Roem Kono dan Praktisi Komunikasi, Burhan Bungin. Acara ini juga dihadiri sejumlah politisi dari Partai Golkar yang duduk di parlemen, seperti Ketua Komisi X DPR Ferdiansyah.

Selain itu, tulis Linda, melalui kemampuan psikoalanisis, para politisi juga mampu meramu paket pesan yang tepat dengan cara penyampaian tepat kepada kategori khalayak yang tepat pula.

“Namun, seringkali komunikator politik dihadapkan pada situasi harus mendistribusikan fungsi dirinya sebagai politisi kepada para profesional dan aktivis dengan tujuan tercapainya efektivitas untuk menjangkau khalayak pemilih,” papar anggota Komisi X DPR RI ini.

Disebutkan dalam buku Linda Purnomo setebal 100 halaman itu, bahwa fungsi Komunikator Politik dapat didistribusikan dan didelegasikan, akan tetapi peran Komunikator Politik tidak dapat dipecah secara otomatis. Pasalnya, di dalam proses pilkada dan pemilu khalayak melihat figur utama, aktor utama sekaligus sang politisi.

Seperti contoh, Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang pada pemilu lalu, tampil sebagai unggulan PDI Perjuangan. Tanggungjawab penuh sebagai Komunikator Politik tidak berada pada partai, melainkan pada sososk Jokowi.

“Kemampuan sosok Joko Widodo sebagai figur kerja, kerja, kerja dan representasi wong cilik secara dramaturgis dinilai sangat berhasil,” papar Linda.

Demikian pula yang dilakukan Donald Trump ketika memastikan dirinya ingin menjadi presiden Amerika Serikat. Dia (Trump), tampil sebagai Komunikator Politik utama dengan ciri khas dan karakter yang dijiwainya sepenuh hati.

Memang, Donald Trump didukung partai dat sederet agen komunikasi. Tetapi, Donald Trump dan partai pendukungnya mendistribusikan fungsi-fungsi Komunikator Politik pada tatanan profesi dan aktivis.

“Mereka bekerja berkelompok, ada yang menyiapkan isu fenomenal, ada yang membaca kebutuhan khalayak, dan lain-lain. Namun, Komunikator Politik utama tetap dipegang Donald Trump,” tulis bekas penyiar TVRI itu.

Sedang Mahyudin menyambut positif buku yang ditulis oleh Linda Purnomo dengan harapan, dapat menjadi acuan bagi para politisi Tanah Air. 

Komunikator Politik, Linda Poernomo
  • Komunikator Politik, Linda Poernomo